December 3, 2021
11-kalimat-yang-bisa-menghancurkan-kepercayaan-anak-pada-orang-tua

5 kalimat yang bisa menghancurkan kepercayaan anak pada orang tua

Kasih sayang dan saling menghormati antara orang tua dan anak sangat diperlukan.

Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa hal terpenting dalam hubungan orang tua-anak adalah kepercayaan.

Sayangnya, terkadang orang tua tidak menyadari bahwa kata-kata yang keluar dari mulut mereka dapat merusak kepercayaan anak-anak mereka.

Baca Juga: 10 Kesalahan Orang Tua Saat Membesarkan Anak Remaja

Kata-kata apa yang dapat menghancurkan kepercayaan seorang anak kepada orang tuanya?

  1. “Jika Anda melakukannya lagi, saya akan menghukum Anda seumur hidup”

Anak-anak tahu persis seberapa besar tekanan yang dapat mereka berikan pada orang tua mereka. Mereka juga memperhatikan ketika orang tua kehilangan kendali dan mengeluarkan peringatan yang tidak mungkin.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Menakut-nakuti anak dengan mengatakan bahwa dia akan menghukum mereka seumur hidup, anak pasti tidak akan mempercayai mereka dan membuat orang tua tampak tidak masuk akal.

Alih-alih takut, manfaatkan konsekuensi yang sepenuhnya layak, seperti menyita telepon atau mengubah kata sandi WiFi.

Jangan membuat konsekuensi “kosong”. Karena anak harus percaya apa yang dikatakan orang tuanya.

“Apakah kamu ingin dipukul?”

Bahkan jika orang tua tidak memiliki niat buruk, jangan pernah mengancam anak-anak dengan hukuman fisik.

Perlakukan anak lebih baik seperti manusia. Dengarkan dan pikirkan kisah mereka.
Saling menghormati antara orang tua dan anak diperlukan untuk membangun kepercayaan.

“Penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa hilangnya kepercayaan diri anak mereka dapat disebabkan oleh apa dan bagaimana orang tua mengatakan sesuatu.”

Itulah yang dikatakan Jeffrey Bernstein, PhD, penulis 10 Days to a Less Defiant Child.

“Nada agresif dan bahasa tubuh orang tua dapat membuat anak-anak dan remaja tidak mempercayai orang tua mereka,” tambahnya.

“Nanti saya hubungi gurunya, lho”

Ketika orang tua merasa tidak dihormati oleh anak-anaknya, mereka biasanya menggunakan orang lain yang berwenang untuk memperkuat posisinya.

Memberitahu anak bahwa orang tua memberikan informasi pribadi kepada guru akan merusak kepercayaan anak dan membuat orang tua tampak tidak aman.

Rumah harus menjadi tempat pribadi dan aman bagi seorang anak, benar-benar terpisah dari sekolah.

Alih-alih membuat ancaman palsu saat berbagi masalah pribadi, coba beri anak Anda dua pilihan. B. jika anak Anda menolak mengerjakan pekerjaan rumah.

Misalnya, jika anak Anda menolak mengerjakan pekerjaan rumah, tawarkan untuk bertanya sebelum atau sesudah makan malam.

Memberi sedikit kekuatan pada anak bisa membuat mereka patuh.

  1. “Selalu lakukan ini”

Bahasa yang buruk dapat menjadi bumerang bagi orang tua.

Baca juga: 5 Tips Mendidik Anak Menjadi Mandiri

Bahasa yang buruk dapat meningkatkan jarak antara anak dan orang tua dan mengisolasi anak dari orang tua.

Anak-anak harus melihat apakah orang tua mereka menyadari kekuatan dan kelemahan mereka dan tidak mengkritik mereka.

Cobalah untuk fokus pada situasi saat ini. Jika kesalahan anak terus menjadi masalah, lebih baik menggunakan pernyataan “kami” daripada “mereka”.

Misalnya, jika seorang anak berulang kali meninggalkan mainannya di ruang tamu, coba katakan, “Wah, sepertinya kita sulit mengingat dan menyimpan mainan kita sendiri.”

“Mari kita ambil bersama. Saya harap kita bisa ingat untuk membersihkannya nanti setelah bermain.”

Anak-anak yang merasa bahwa orang tuanya berada di pihak mereka akan termotivasi untuk mengesankan orang tua mereka di masa depan.

  1. “Beri tahu nenek apa yang kamu lakukan pagi ini”

Setelah anak melakukan kesalahan, beberapa orang tua biasanya meminta anak untuk mengakui kesalahan tersebut kepada orang lain agar anak tersebut bertobat.

Hal ini tidak hanya mempermalukan dan menyakiti anak, tetapi juga menyebabkan anak tidak lagi mempercayai orang tua sebagai tempat untuk mengekspresikan emosinya.

Orang tua harus menjadi orang pertama yang mengawasi perkembangan emosi dan sosial anak, termasuk berbagai cacat yang merupakan bagian dari perkembangan anak.

Anak selalu ingin membahagiakan orang tua dan akan bekerja keras untuk mencapai tujuan ini ketika orang tua menyadari perilaku positif mereka.

Jadi ketika orang tua meminta seorang anak untuk berbagi pengalaman yang memalukan, orang tua dapat merusak kepercayaan anak bahwa mereka harus menjadi pelindung mereka.

Ketika anak-anak membuat kesalahan, bantu mereka menyadari bahwa mereka tidak membuat keputusan yang cerdas. Maafkan anak itu dan lanjutkan.

Perlakukan insiden yang telah terjadi secara rahasia. Dan ketika orang tua membaginya dengan seseorang, lakukan secara pribadi, jauh dari anak.

LIHAT JUGA :

serverharga.com
wikidpr.id
riaumandiri.id
dekranasdadkijakarta.id
finland.or.id
cides.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *