January 21, 2022
Gerakan-Sekolah-Menyenangkan-Banyak-inovasi-pendidikan-tetapi-efek-pembelajarannya-kurang

Gerakan Sekolah Menyenangkan: Banyak inovasi pendidikan, tetapi efek pembelajarannya kurang

Gerakan Sekolah Seru (GSM) yang digagas oleh Muhammad Nur Rizal menegaskan, meski sudah banyak inovasi pendidikan, namun belum berdampak signifikan terhadap pembelajaran siswa.

Demikian disampaikan Rizal saat menjadi narasumber webinar “Inovasi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” Pusat Inovasi Administrasi Negara pada Kamis, 8 April 2021.

Ada beberapa alasan mengapa inovasi pendidikan kurang efektif, antara lain karena kebijakan yang masih bersifat top-down dan problematik

, roadmap pendidikan yang belum menyentuh substansi pendidikan, dan belum adanya perubahan pola pikir dan Paradigma pendidikan.
Kebijakan dari atas ke bawah

Muhammad Nur Rizal, pendiri GSM, mengatakan inisiatif top-down belum optimal.

“Seperti terlihat, sudah banyak upaya perbaikan pendidikan melalui kebijakan-kebijakan kunci

seperti Kurikulum 13, Insentif Guru, Profesi Guru, Sekolah Ramah Anak, Sekolah Adiwiyata yang hasilnya tidak berdampak langsung dalam solusi Era Gangguan”, ujarnya.

Baca juga: BPIP Desak Kemendikbud Masukkan Pancasila dalam Kurikulum

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Selain itu, Rizal juga mengungkapkan data yang masih memasukkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan peringkat skor PISA terendah, dengan skor PISA stagnan selama 10-15 tahun terakhir.

“41 persen siswa masih banyak mengalami bullying dibandingkan dengan hanya 23 persen negara OECD,” katanya.

Ia menambahkan, “Mindset kemajuan mahasiswa Indonesia cukup rendah yaitu 29% dibandingkan negara-negara OECD sebesar 63%.”

Selain itu, angka ICOR Indonesia adalah 6,5, tertinggi dari negara ASEAN mana pun

, menunjukkan biaya investasi Indonesia yang boros.

“Data-data tersebut menunjukkan ketidakefektifan inisiatif kebijakan sebelumnya dalam merespon permasalahan, tantangan dan ancaman yang muncul ke depan, bahkan hingga saat ini,” kata Rizal.
Perubahan mentalitas dan paradigma

Karena itu, Nur Rizal menekankan perlunya narasi perubahan yang diulang-ulang secara serentak oleh pembuat kebijakan pusat dan daerah beserta penyuluhnya.

“Selama ini inovasi kebijakan yang dihasilkan belum diikuti dengan narasi perubahan yang dapat membawa perubahan pola pikir dan paradigma pendidikan,” ujarnya.

Padahal, Rizal menilai penting untuk menginisiasi perubahan dengan mengubah pola pikir, perilaku dan sistem kepercayaan dari paradigma dan arah pendidikan yang baru sehingga tercipta perubahan secara internal.

Menurutnya, perubahan paradigma pendidikan tidak boleh hanya bergantung pada insentif eksternal seperti anggaran, hibah, dan program pemerintah.

“Oleh karena itu sangat diperlukan pemaparan yang bulat, jelas dan terarah tentang fokus pendidikan Indonesia ke depan,” ujarnya.

Untuk alasan ini, GSM melihat perlunya pertumbuhan organik dalam komunitas pengajar daripada pendekatan top-down.

Baca juga: YCAB: Mesin dan Kurikulum SMK Sudah Tua

“Model perubahan yang berhasil di akar rumput perlu digalakkan oleh pemerintah dengan pendekatan deviasi positif dimana solusi praktis datang dari komunitas pengajar itu sendiri,” ujarnya.

Oleh karena itu, peran pemerintah dalam memfasilitasi regulasi dan pedoman penting yang memberikan layar bagi warga akar rumput untuk bergerak bebas, namun tetap didukung dalam konteks infrastruktur politik dan anggaran.

“Koordinasi politik antara pusat dan daerah harus sinkron dan tidak saling meniadakan, sehingga praktik di lapangan sesuai dengan politik belajar bebas sebagai titik balik perubahan paradigma dan aspek perilaku pendidikan,” pungkasnya.

LIHAT JUGA :

https://paskot.id/
https://politeknikimigrasi.ac.id/
https://stikessarimulia.ac.id/
https://unimedia.ac.id/
https://www.hindsband.com/
https://savepapajohns.com/
https://mudikbumn.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *